Black Out 12 Jam, Ekonomi Batam Tekor Rp233 Miliar

BATAM: Pemadaman listrik total yang terjadi pada Senin (12/10) selama kurang lebih 12 jam mengakibatkan kerugian materil dan non materil oleh pelaku industri dan jasa perdagangan yang nilainya diperkirakan mencapai Rp233 miliar.

Suyono Saputra, Ketua Ikatan Sarjana Ekonomi Indonesia (ISEI) Cabang Batam, menilai tragedi listrik yang terjadi kemarin telah menimbulkan dampak ekonomi bagi masyarakat dan pelaku usaha.

“Hitungan sementara kerugian finansial oleh pelaku usaha industri dan jasa perdagangan diperkirakan mencapai Rp233 miliar dalam 12 jam pemadaman, itu belum termasuk kerugian oleh masyarakat rumah tangga,” ujarnya.

Perhitungan ISEI Batam terkait kerugian ekonomi selama 12 jam pemadaman itu diperkirakan mencapai Rp233,5 miliar. Dasar hitungannya adalah nilai PDRB tahunan Batam sekitar Rp200 triliun, sehingga satu hari total output sekitar Rp548 miliar atau dalam 12 jam berarti sebesar Rp274 miliar. Tapi potensi ekonomi itu tidak 100% hilang karena asumsi loss factor yang konservatif.

Untuk industri manufaktur yang menguasai 56% PDRB dalam 12 jam hilang Rp153,4 miliar, jika diasumsikan 70% saja yang hilang maka potensi kerugian sekitar Rp107,4 miliar. Contoh satu pabrik memiliki 500 pekerja maka dalam 12 jam tidak beroperasi, perusahaan berpotensi rugi Rp300-400 juta.

Untuk sektor jasa pusat perbelanjaan dan perdagangan diperkirakan sekitar Rp60,3 miliar atau 44% dari PDRB, termasuk di sektor pelabuhan yang tidak bisa bongkar muat selama 12 jam dan penundaan pengiriman kontainer ke Singapura dan Malaysia.

Yang paling beresiko adalah kerugian akibat bahan baku yang rusak dan proses recovery pabrik yang menelan rugi Rp32,2 miliar. Ini tidak terlihat dalam PDRB. Asumsinya jika pabrik elektronik yang memiliki oven diatas 200 derajat maka ketika mati listrik seluruh bahan baku di line produksi jadi sampah, belum lagi proses sterilisasi ulang selama 8 jam menggunakan bahan kimia.

Selain itu, belanja tambahan akibat penggunaan solar untuk menggerakkan mesin genset selama 12 jam juga termasuk kerugian tambahan dari pelaku usaha yang keluar akibat pemadaman.

“Jika hari ini dan hari-hari berikutnya pemadaman bergilir masih terjadi maka kerugian yang harus ditanggung pelaku usaha akan makin besar,” tambah Suyono.

Namun demikian, pemadaman total 12 jam kemarin juga memberikan berkah bagi sektor perhotelan yang mengalami lonjakan tamu yang terpaksa harus pindah menginap karena rumahnya mengalami pemadaman. Lonjakan tamu ini dialami beberapa hotel berbintang di Batam.

Suyono menghimbau PLN Batam agar menjelaskan kepada publik perihal penyebab pemadaman total kemarin sebab publik masih menunggu keterbukaan informasi dari perusahaan listrik tersebut.

“Mengenai isu adanya hewan liar yang masuk ke Gardu Induk sangat sulit diterima logika jika melihat dampak yang ditimbulkannya dirasakan oleh masyarakat di Batam Bintan dan Tanjungpinang,” tegasnya.

Sampai dengan Selasa (13/10), sistem kelistrikan sudah berangsur normal. Namun demikian belum ada jaminan pemadaman tidak akan terjadi lagi dalam beberapa hari kedepan.