Rupiah Tembus Rp18.000 per Dolar AS, Terlemah Sepanjang Sejarah!

JAKARTA: Pelemahan nilai tukar rupiah terhadap dolar AS kian tak terbendung. Pada Kamis (4/6/2026), Mata Uang Garuda menembus level Rp 18.000 per dolar AS untuk pertama kalinya dan menjadi posisi terlemah sepanjang sejarah.

Mengutip Bloomberg, rupiah dibuka melemah 37 poin ke posisi Rp 18.003 per dolar AS. Hingga sekitar Kamis pukul 09.15 WIB, rupiah kembali terkoreksi dan mencapai Rp 18.014,5 per dolar AS. Sementara itu, indeks dolar AS juga melemah sekitar 0,09 poin ke level 99,44.

Bank Indonesia (BI) terus berupaya melakukan intervensi di pasar untuk menstabilkan rupiah. Berbagai kebijakan juga terus digulirkan. “Bank Indonesia terus berada di pasar dengan mengoptimalkan seluruh instrumen kebijakan yang dimiliki untuk memastikan mekanisme pasar berjalan dengan baik dan menjaga kecukupan likuiditas valas guna turut mendukung stabilitas pasar keuangan,” kata Kepala Departemen Komunikasi BI Ramdan Denny Prakoso dalam keterangan resmi, Rabu (3/6/2026).

Denny menjelaskan, salah satu kebijakan strategis BI adalah menerapkan threshold pembelian dolar AS. Pada April 2026, BI menurunkan batas pembelian dolar AS tanpa underlying dari 100 ribu dolar AS per orang per bulan menjadi 50 ribu dolar AS per orang per bulan. Kebijakan tersebut kemudian diperketat lagi. Mulai Juni 2026, batas pembelian kembali diturunkan menjadi 25 ribu dolar AS per orang per bulan.

“Mulai 2 Juni 2026, Bank Indonesia telah memberlakukan ketentuan threshold tunai beli valas terhadap rupiah tanpa underlying menjadi 25 ribu dolar AS per pelaku per bulan,” terangnya.

BI juga terus mendorong penggunaan mata uang lokal dalam kerja sama bilateral melalui skema Local Currency Transaction (LCT) sebagai upaya mengurangi ketergantungan terhadap dolar AS dan memitigasi risiko volatilitas nilai tukar. Kerja sama tersebut telah terjalin dengan China, Jepang, Malaysia, Thailand, Korea Selatan, dan Uni Emirat Arab (UEA).

“Bank Indonesia memandang stabilitas nilai tukar rupiah memerlukan sinergi seluruh pemangku kepentingan. Untuk itu, Bank Indonesia terus memperkuat koordinasi dengan pemerintah, Otoritas Jasa Keuangan (OJK), perbankan, dunia usaha, dan pelaku pasar guna memastikan bekerjanya mekanisme pasar secara baik serta memperkuat ketahanan eksternal perekonomian nasional,” jelasnya.

Sebelumnya, di tengah tren pelemahan rupiah, Gubernur BI Perry Warjiyo pada Selasa (5/5/2026) mengungkapkan Presiden Prabowo Subianto telah memberikan arahan kepadanya untuk melakukan tujuh langkah strategis guna menstabilkan nilai tukar rupiah.

Salah satunya adalah melakukan pembatasan pembelian dolar AS di pasar domestik tanpa underlying, dari 100 ribu dolar AS per orang per bulan menjadi 50 ribu dolar AS per orang per bulan pada April, kemudian diturunkan lagi menjadi 25 ribu dolar AS per orang per bulan pada Juni.

Sejalan dengan itu, BI memperkuat Local Currency Transaction (LCT) antara yuan China dan rupiah Indonesia. Kerja sama tersebut merupakan upaya alternatif untuk mengurangi kebutuhan terhadap dolar AS.

Local currency kita dengan yuan China sangat tinggi, dan sekarang sudah mulai terbentuk pasar domestik, sehingga mengurangi atau melakukan diversifikasi dari dolar, sehingga (rupiah) bisa menguat,” ujarnya.

Kebijakan lainnya yang terus dilakukan adalah intervensi di pasar domestik melalui pasar spotdomestic non-deliverable forward (DNDF), maupun di pasar offshore melalui non-deliverable forward (NDF). Intervensi tersebut antara lain dilakukan di Hong Kong, Singapura, London, dan New York.

Sejalan dengan upaya intervensi di pasar offshore melalui NDF dan agar lebih mampu mengendalikan perkembangan nilai tukar di luar negeri, BI membolehkan perbankan domestik turut menjual NDF di pasar offshore.

“Kami membolehkan bank-bank domestik untuk ikut jualan NDF di luar negeri sehingga pasokannya lebih banyak. Itu akan memperkuat stabilisasi nilai tukar rupiah,” kata Perry.

Selain itu, BI terus menggunakan instrumen Sekuritas Rupiah Bank Indonesia (SRBI) untuk menarik dana asing masuk (capital inflow). Langkah tersebut dilakukan untuk mengimbangi arus modal keluar (capital outflow) dari Surat Berharga Negara (SBN) dan pasar saham.

“Sementara ini SBN itu keluar (capital outflow), kemudian saham meskipun dalam minggu-minggu terakhir sudah inflow, tetapi secara year to date masih outflow. Sehingga kami sepakat sementara ini SRBI dibuat perlu inflow untuk bisa mencukupi outflow dari SBN dan saham. Itu untuk memperkuat nilai tukar rupiah,” terangnya.

BI juga akan terus membeli SBN dari pasar sekunder. Langkah tersebut telah dilakukan sejak awal tahun sebagai hasil koordinasi otoritas fiskal dan moneter.

Kebijakan lainnya, BI bersama Kementerian Keuangan terus menjaga likuiditas perbankan dan pasar pada level yang lebih dari cukup. Hal itu, kata Perry, tercermin dari pertumbuhan uang primer yang konsisten tumbuh dua digit.

Terakhir, BI akan meningkatkan pengawasan terhadap perbankan maupun korporasi yang memiliki aktivitas pembelian dolar AS dalam jumlah besar. Perry menyebut BI mengirim pengawas dan melakukan koordinasi dengan OJK guna memastikan stabilitas sistem keuangan tetap terjaga.

Perry menyampaikan tekanan terhadap rupiah diperkirakan hanya berlangsung dalam jangka pendek. Menurut dia, pelemahan rupiah saat ini dipengaruhi dua faktor, yakni faktor global dan faktor musiman.

Faktor global meliputi tingginya harga minyak dan suku bunga AS, serta penguatan dolar AS yang mendorong arus modal keluar (capital outflow) dari negara berkembang, termasuk Indonesia.

Sementara faktor musiman antara lain berasal dari tingginya permintaan dolar AS untuk pembayaran repatriasi dividen, pembayaran utang, serta kebutuhan jamaah haji.

Meski demikian, Perry menilai nilai tukar rupiah saat ini masih berada pada kondisi undervalue, yaitu ketika nilai rupiah berada di bawah fundamental ekonominya. Artinya, masih terdapat peluang bagi rupiah untuk kembali menguat.

“Nilai tukar sekarang ini undervalue. Kenapa undervalue? Fundamental kita kuat, pertumbuhan ekonomi sangat tinggi 5,61 persen pada kuartal I 2026, inflasi rendah, kredit juga tumbuh tinggi, cadangan devisa juga kuat. Inilah fundamental yang menunjukkan mestinya rupiah itu akan stabil dan cenderung menguat ke depan,” terang Perry.